Tahun 2011, seorang anak berdiri di atas panggung lomba ceramah cilik untuk pertama kalinya. Dengan mikrofon di tangan dan rasa gugup yang tak bisa disembunyikan, ia mulai berbicara di depan banyak orang. Lima belas tahun kemudian, anak yang sama kembali berdiri di atas panggung. Kali ini sebagai Winner Putri Himasta 2026, salah satu representasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Statistika Universitas Padjadjaran.
Di balik pencapaian tersebut, terdapat perjalanan panjang yang dibangun oleh satu hal sederhana, yaitu keberanian untuk terus mengambil kesempatan. Kesempatan untuk belajar, mencoba hal baru, menghadapi tantangan, hingga berkembang melalui berbagai proses. Perjalanan itu adalah milik Nadifa Sayyidah, mahasiswi Statistika Universitas Padjadjaran angkatan 2025 yang percaya bahwa setiap langkah yang diambil, sekecil apa pun, dapat menjadi awal dari kesempatan yang lebih besar.
Keberanian yang Tumbuh Sejak Kecil
Bagi Nadifa, perjalanan tersebut dimulai jauh sebelum ia mengenal dunia kampus maupun ajang Putra Putri Himasta. Salah satu memori yang paling ia ingat adalah saat mengikuti lomba ceramah cilik pada tahun 2011. Saat itu, Nadifa berhasil menghafal naskah ceramah sepanjang satu halaman penuh dan tampil di depan banyak orang dengan penuh antusias. Walaupun satu minggu sebelum lomba berlangsung ia sempat mengalami sakit campak, dukungan yang tidak pernah berhenti dari sang ibu membuat semangatnya tidak redup.
Keberanian tampil di depan umum juga tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, Nadifa terbiasa bermain āguru-guruanā di rumah, dengan kedua orang tuanya berperan sebagai murid. Suasana nyaman yang dibangun di rumah membuatnya mampu membawa rasa percaya diri tersebut ke berbagai panggung yang ia temui di kemudian hari. Bagi Nadifa, keluarga menjadi fondasi terpenting dalam proses bertumbuhnya. Ia mengenang kebiasaan sang ibu yang selalu mengajaknya berbincang setiap malam sebelum tidur. Dari kebiasaan sederhana itu, ia belajar berkomunikasi dengan baik dan menyusun alur pikir secara terstruktur. Sementara sang ayah selalu hadir memberikan apresiasi atas setiap pencapaian yang diraihnya, bahkan melalui hal-hal sederhana.
Tidak heran jika Nadifa merasa kalimat āTerbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentukā sangat menggambarkan dirinya. Menurutnya, setiap tantangan, keputusan, dan proses yang ia jalani telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih dewasa. āSetiap tantangan yang aku dapat, aku selalu percaya akan ada hikmah di kemudian hari,ā ujarnya. Nadifa yakin bahwa setiap kesulitan selalu membawa pelajaran yang berharga.
Menemukan Ruang Bertumbuh di Statistika Unpad
Perjalanan tersebut berlanjut ketika Nadifa diterima sebagai mahasiswa Program Studi Statistika Universitas Padjadjaran pada tahun 2025. Menariknya, keputusan memilih Statistika tidak lepas dari peran sang ibu. Saat masih duduk di kelas 12 SMA, Nadifa sempat bimbang menentukan jurusan kuliah. Melalui berbagai diskusi, ibunya membantu mengarahkan pilihan berdasarkan potensi diri. Dari situlah Nadifa mulai melihat bagaimana ketertarikannya pada matematika dapat berkembang melalui Statistika.
Memasuki dunia perkuliahan, ia menemukan banyak peluang yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Tidak hanya belajar di kelas, mahasiswa Statistika juga diperkenalkan pada berbagaikesempatan untuk berkembang melalui kompetisi, proyek dosen, kegiatan organisasi, hinggapeluang berkarier sejak masa kuliah. Menurut Nadifa, salah satu hal yang paling berkesan adalahlingkungan Statistika yang suportif dan penuh rasa kekeluargaan. Dukungan dari dosen, senior, maupun Himasta membuat mahasiswa memiliki ruang yang aman untuk belajar dan mencoba berbagai hal baru. āSemasa ospek, kami seperti dipupuk, dirawat, dan diberikan yang terbaik. Sekarang tinggal bagaimana kami menentukan sendiri ingin tumbuh menjadi seperti apa,ā ungkapnya. Pengalaman tersebut membuat Nadifa merasa bahwa Statistika Unpad juga memberikan ruang untuk bertumbuh sebagai individu.
Dari Kesempatan Kecil Menuju Panggung yang Lebih Besar
Sejak awal menjadi mahasiswa, Nadifa memilih untuk terus mengambil kesempatan yang datang. Salah satunya adalah mengikuti MIPA Reels Xperience dan berhasil meraih Juara 2. Awalnya, kompetisi tersebut hanya menjadi rencana. Namun dorongan dari dosen dan lingkungan membuatnya berani melangkah. Lebih dari sekadar penghargaan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting tentang arti dukungan. Nadifa merasakan bagaimana dosen dan teman-teman di lingkungan Statistika memberikan dukungan penuh selama proses kompetisi berlangsung.
Selain mengikuti lomba, Nadifa juga aktif menjadi MC di berbagai kegiatan kampus. Baginya, dunia public speaking yang telah ia tekuni sejak kecil masih menjadi ruang yang ingin terus ia eksplorasi. Menjadi MC, mengikuti kepanitiaan, terlibat dalam organisasi, hingga mencoba berbagai kompetisi merupakan bagian dari proses membangun rekam jejak dan mengembangkan diri. Tanpa disadari, langkah-langkah kecil tersebut perlahan membawanya menuju kesempatan yang lebih besar.
Menggunakan Suara untuk Membawa Dampak
Bagi Nadifa, berbicara di depan umum juga merupakan tentang menyampaikan nilai yang ia yakini. Dalam rangkaian Putra Putri Himasta 2026, ia mengangkat isu lingkungan. Ketertarikan tersebut sebenarnya telah tumbuh sejak tahun 2021 melalui berbagai aktivitas lingkungan yang sederhana, mulai dari memilah sampah, membuat pupuk, hingga mengajak teman-temannya membawa wadah sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ketika menjadi mahasiswa, kebiasaan tersebut tetap ia lanjutkan. Ia membawa berbagai perlengkapan ramah lingkungan ke tempat kos dan semakin tertarik pada isu daur ulang setelah menemukan fasilitas Plastic Pay di Universitas Padjadjaran.
Menariknya, Nadifa menghubungkan isu keberlanjutan dengan budaya Sunda yang lekat dengan kehidupan masyarakat Jatinangor. Menurutnya, banyak kebiasaan ramah lingkungan yang sebenarnya telah dilakukan sejak dahulu, seperti menggunakan daun pisang, rantang, atau wadah anyaman sebagai pengganti plastik. Melalui gagasan tersebut, Nadifa ingin mengajak mahasiswa melihat bahwa gaya hidup ramah lingkungan sebagai nilai yang telah diwariskan oleh budaya lokal dan layak untuk terus dilestarikan.
Kesempatan yang Mengantarkan Nadifa pada Putri Himasta 2026
Keputusan mengikuti Putra Putri Himasta 2026 lahir dari rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba hal baru. Sebelumnya, Nadifa belum pernah mengikuti ajang pageant ataupun kompetisi serupa. Namun setelah mendengar pengalaman para Putra Putri Himasta dari angkatan sebelumnya, ia melihat ajang tersebut sebagai ruang belajar yang menawarkan banyak kesempatan untuk berkembang.
Selama hampir tiga bulan, ia mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari karantina, pematerian, tugas-tugas pengembangan diri, hingga grand final. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika membawakan Tari Tor-Tor pada sesi unjuk kabisa. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai penari, ia membuktikan bahwa seni dapat dipelajari melalui niat, usaha, dan konsistensi.
Saat namanya diumumkan sebagai Winner Putri Himasta 2026, hal pertama yang terlintas di benaknya justru sebuah tanggung jawab baru.āOh, berarti ada amanah baru yang diberikan kepada aku,ā kata Nadifa. Baginya, gelar tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab. Dua nilai yang terus ia pegang hingga hari ini adalah integritas dan sustainability. Melalui keduanya, Nadifa berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi Himasta dan mahasiswa Statistika, sekaligus meninggalkan jejak yang bermakna selama masa perkuliahannya.
Perjalanan yang Masih Terus Berlanjut
Bagi Nadifa, menjadi Winner Putri Himasta 2026 bukanlah titik akhir. Sebaliknya, pencapaian tersebut merupakan salah satu bagian dari perjalanan panjang yang masih terus berjalan.
Dari seorang anak yang pertama kali menggenggam mikrofon pada tahun 2011 hingga menjadi mahasiswi Statistika Unpad yang aktif berkarya, berorganisasi, dan membawa gagasan bagi lingkungan sekitarnya, Nadifa yakin bahwa keberanian untuk mengambil kesempatan merupakan langkah pertama menuju pertumbuhan.
Written by: Fayha Ramadhina Wibowo E-mail: [email protected]
